Langsung ke konten utama

Postingan

AUGUST

Semoga tulisan ini tidak terlambat, seperti tagihan tugas-tugasku yang menumpuk di akhir semester, seperti rindu yang manusia tampung dalam celengan bak syair Bung Fiersa Besari. Kepada, Agustus. Aku meminta maaf karena tak mengucap selamat datang dan tiba-tiba menjumpaimu di hari yang hampir terhitung akhir ini. Terima kasih sudah berkenan menggenapkan tujuh belas yang ketujuh puluh enam bagi tanah kelahiranku ini. Semoga Tuhan mempertemukan kita kembali di tahun-tahun yang akan datang. Dirgahayu… dirgahayu… dirgahayu… Semoga berumur panjang untuk negaraku juga negaramu. Kita yang terlahir di tanah yang sama namun tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang berbeda. Namun, tentangmu… aku akan selalu mendoakan kebaikan-kebaikan yang tak terhingga selayaknya apa yang orang-orang baik itu doakan untukmu. Apakah orang-orang masa kini masih membicarakan tentang kemerdekaan di dalam layar kaca, di pelataran media sosial, di dalam bus kota, kereta, juga kapal udara, di gedung-gedung pemerint...

Linkin Park, Chester Bennington, dan 20 Juli

     Aku perempuan 20 tahun yang telah melewati masa waptrick , planetlagu , joox , dan sekarang spotify . Siapa yang selama hidupnya tidak pernah mendengarkan musik? Tentu bukan aku. Ketika trend mengunduh lagu bajakan tengah marak, aku merupakan salah satu pelaku di dalamnya. Bahkan jujur sampai saat ini aku masih menyimpan file-file .mp4 itu di dalam perangkat pc-ku.      Enam tahun lebih yang lalu, aku belum mengenal BTS, atau EXO, atau The Chainsmokers, atau bahkan Nadin Amizah. Aku masih seorang remaja yang mendengarkan lagu-lagu Peterpan (aku pikir ketika SMP terdapat masa aku berjarak dengan NOAH), Maroon 5, Coldplay, Simple Plan, Avril Lavigne, Taylor Swift, Avenged Sevenfold, dan tentunya Linkin Park.      Di antara banyak genre musik yang kudengar, mungkin beberapa orang akan heran, “ bagaimana bisa seorang perempuan mendengarkan musik rock? ”. Suatu hal yang lumrah di tengah pandangan masyarakat umum, meskipun di dunia ini h...

FROM MEMORIES DO NOT OPEN

  Aku belum selesai menulisnya kemarin. Bahkan belum genap untuk satu jilid. Kemungkinan selalu ada, setiap kelemahan adalah kemanusiaan. Aku mutlak MANUSIA. Namun memang tidak benar menjadikannya sebuah alasan belaka. Sama sekali bukan alasan untuk terus merasa lemah. Aku di sini. Berdiri kemudian mulai menyeduh secangkir kopi. Namun seringkali juga menyeduh teh dengan dan tanpa gula. Hal sesederhana ini membuatku memahami diri sendiri. Mengapa demikian? Aku hanya merasa aku perlu melakukan hal-hal berbeda sesuai keadaan terbaik dan terburukku saat itu. Ketika aku masih menjadi anak kecil bahkan hingga sekarang, ada banyak hal-hal yang menjadi alasan mengapa diriku terlalu mudah untuk menangis. Satu rahasia umum ketika kita menginjak diri yang berubah-ubah, mengapa kemudian kita pernah ada di suatu waktu bahwa menangis adalah hal yang sulit? Why I can’t cry? Uniknya lagi sebagai manusia terkadang ada suatu waktu tiba-tiba kita menangis, tiba-tiba kita tertawa, dan apakah kit...

Untuk Seseorang di Masa Mendatang

Kita berjalan jauh untuk mencapai dekat. Ketika waktu tidak bertentangan, aku bersyukur kita bukan jalan yang berseberangan. Kita jalan yang beriringan kendati aku dan kamu tidak terlahir dalam keadaan yang sama. Entah kapan suatu masa itu datang, kita pasti berdampingan dengan perbedaan. Maka mari berdamai dalam penerimaan. Sesuatu yang kalau-kalau jatuh akan kita tangkap bersama. Sesuatu yang kalau-kalau hilang akan kita temukan bersama. Hidup tak pernah sedatar stadion ibu kota. Hidup tak pernah selalu hijau bak rumput yang terpangkas rapi di atasnya. Namun kita akan menanam dan menuai tanaman yang sama. Sebuah tanaman yang mengingatkan kita tentang pemaknaan kesabaran. Seharusnya aku dan kamu tak pernah jauh karena takdir itu sendiri yang membuat kita dekat. Bak setiap kegagalan dan percobaan, bak setiap kegagalan dan tercapainya keberhasilan setelah ratusan percobaan. Selayaknya kita mencoba berdamai atas keadaan diri masing-masing. Penerimaan itu bukan sesuatu yang tak ...

Pulang

“I write for my little soul” Pernahkah engkau merasakan? Tak dapat menjadi dirimu sendiri dan penuh kepalsuan. Itu datang dalam waktu yang sangat-sangat dalam. Ketika engkau banyak mendengarkan kata-kata orang namun tak mampu mendengarkan dirimu sendiri. UJUNGNYA. Sampai engkau ingin berteriak dengan lantang pada akhirnya. Sampai engkau ingin meremukkan kaca jendela rumahmu. Sampai engkau ingin membanting pigura kesayanganmu. Sampai engkau ingin mematahkan harta berhargamu, hati yang terlanjur remuk. Saat engkau sadar tak satu pun ada yang memperhatikanmu, kecuali Tuhan. Seolah tak ada yang dapat mengertikan betapa sulitnya keadaan jiwamu. Ketika tuntutan-tuntutan terasa begitu menekan. Ketika angka dan perbandingan itu membuatmu muak dan ingin pergi ke negeri jauh. Namun, kakimu bergetar hebat dan seakan tak kuat berdiri. Engkau jatuh sejatuh-jatuhnya pada lubang paling dalam. Mengutuk kehidupan dan menangisi hari-hari kemarin. Meyaksikan kehancuran hari ini seka...

Perjalanan Menemukan yang Tak Ditemukan

A ku benar-benar seperti ingin pergi ke negeri jauh. Merasakan dingin butiran salju. Memanjakan perasaanku sendiri. Aku terlampau senang untuk bertualang dalam kepalaku. Namun, belum ada kesempatan pasti untuk menentukan sebuah perjalanan. Apakah aku berani bepergian sendiri? Haruskah ada orang lain yang kuajak? Sebuah buku yang akan terus aku tulis setiap waktu, takdir. Sesuatu di antara yang telah kuubah dan tak dapat aku ubah. Aku ingin terus merawat dunia kecilku. Jangan terburu-buru untuk menua karena aku tak ingin terlampau cepat sakit. Masih banyak waktu yang ingin kulewati dengan kemudaan dan kebebasan. Lalu mengapa pula menjadi dewasa terlihat dan terasa akan sangat memenjara? Melarang apa-apa. Membatasi diri menjaga dari pandangan orang-orang. Ruangan-ruangan sempit yang menyedihkan, jangan sampai aku tinggal di dalamnya pun begitu juga dirimu. Mari menguasai waktu masing-masing. Memandang hamparan manusia dengan kesibukannya d...

Obsesi

Terkadang aku merasa menjadi orang bodoh, bahkan mungkin terlalu sering pikiran itu tiba-tiba mendera. Setelah bertahun-tahun sebagai manusia  seseorang tak lagi sama begitupun orang-orang lain. Bagiku terasa seperti itu. Dalam setiap perubahan yang datang, dunia kian berbeda. Rasanya aku tak sanggup mengejar, rasanya ada sebuah tembok tinggi besar yang menambah halangan. Aku terlalu payah untuk berlari. Aku terlalu lelah untuk mengejar. Aku terlalu bodoh untuk mencoba. Yang benar adalah aku egois dan keras kepala. Tidakkah kamu merasakan itu? Wahai orang-orang di sekitarku. Aku tak lagi sama. Entah mengapa begitu hampa dan kembali merapuh. Engkau mungkin juga pernah begitu. Datang padaku lalu ceritakan dukamu. Mari berbagi dalam jatuh, bergerak, menyentuh, dan jangan menghilang lagi. Aku tidak pernah merestui itu,  tentang perubahanmu. Ketidaksamaan dalam dirimu bukan lagi menjadi candu. Tak kurangpun begitu aku tetap merasa adiksi dan kamu masih meng...