Langsung ke konten utama

Bentar Nanti Aja, Ini Untuk Disimpan (Draft 28 September 2021)

 Ketinggian.

Beberapa orang atau bahkan banyak orang takut dengan ketinggian. Aku sering mendengar mereka menyebutnya "phobia". Ketika aku menulis ini, aku berada di tempat yang lebih tinggi daripada kamar kosku yang hanya di lantai dua.

Ini lantai lima dengan pemandangan yang luar biasa. Sebuah gedung yang terhitung baru di tempatku memutuskan melanjutkan pendidikan (tinggi?).

Tentang kata "tinggi", aku teringat lirik salah satu lagu favoritku.

Tetapi hatiku selalu meninggikanmu, terlalu meninggikanmu, selalu meninggikanmu.

Hal-hal seperti ini terkadang membuat manusia lupa melihat ke bawah. Namun di sisi lain jika tak melihat ke bawah maka orang-orang yang memeluk fobia tidak perlu merasa takut lagi. Mereka hanya perlu meresapi betapa luar biasanya pemandangan dari ketinggian, hal-hal yang tidak dapat dilihat dari tempat yang tidak tinggi.

Tidak hanya tempat tinggi yang memiliki keindahan, setiap tempat memiliki keindahannya masing-masing. Hanya perlu hati yang lapang dan ikhlas untuk dapat menikmati keindahan itu.

Sebentar, aku salah mengambil kata "hanya", padahal itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Aku dan engkau pasti tahu bahwa setiap kata terasa mudah untuk diucapkan namun begitu sulit untuk dilakukan.

Astaga, terlalu usang ya? Aku memohon maaf karena benar-benar kehabisan kata untuk saat ini. Aku benar-benar kurang membaca.

Tiba-tiba aku berpikir padahal sebenarnya kita bisa menjelajahi dunia hanya dengan membaca. Aku memang bodoh karena aku mengetahui hal tersebut namun tidak bertekad dan berusaha mewujudkannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suatu Waktu untuk Sebuah Orientasi Pilihan

Berapa banyak waktu yang telah terlewati? Berapa banyak keluh dan sesal karena itu? Beberapa dari kita mungkin merasa tak pernah dapat memilih. Sekalipun pilihan-pilihan itu ada namun apa yang akhirnya diputuskan terkadang bukan yang kita inginkan. Bagaiamana dengan hal itu? Apa itu sesuatu yang salah? Aku salah satu dari sekian persen jumlah manusia yang merasa bersalah akan waktu. Bagaimana cara menghargainya rasanya tak pernah menjadi sebuah ketepatan. Lalu kini aku malu, aku semakin tua namun tak banyak yang berubah begitu saja. Apa tetap menjadi seperti kemarin adalah benar-benar tak apa? Aku suka menjelajahi setiap ingatan yang tercatat. Kadang begitu manis, kadang begitu pahit. Ada sesuatu yang lebih dari rasa itu hingga tak ada bosan yang bersarang. Aku ingin titip sesuatu untuk masa depan, dialah sejarah. Masa yang gila. Masa yang bermakna. Lalu masa yang tak ternilai. Bagaimana caranya mengulang? Cerita itu menjadi suatu ujung yang tak kuketahui. Ter...

AUGUST

Semoga tulisan ini tidak terlambat, seperti tagihan tugas-tugasku yang menumpuk di akhir semester, seperti rindu yang manusia tampung dalam celengan bak syair Bung Fiersa Besari. Kepada, Agustus. Aku meminta maaf karena tak mengucap selamat datang dan tiba-tiba menjumpaimu di hari yang hampir terhitung akhir ini. Terima kasih sudah berkenan menggenapkan tujuh belas yang ketujuh puluh enam bagi tanah kelahiranku ini. Semoga Tuhan mempertemukan kita kembali di tahun-tahun yang akan datang. Dirgahayu… dirgahayu… dirgahayu… Semoga berumur panjang untuk negaraku juga negaramu. Kita yang terlahir di tanah yang sama namun tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang berbeda. Namun, tentangmu… aku akan selalu mendoakan kebaikan-kebaikan yang tak terhingga selayaknya apa yang orang-orang baik itu doakan untukmu. Apakah orang-orang masa kini masih membicarakan tentang kemerdekaan di dalam layar kaca, di pelataran media sosial, di dalam bus kota, kereta, juga kapal udara, di gedung-gedung pemerint...

Cerpen : Perempuan Bernama Mei

     Perempuan bermata sipit itu merangkai buket pesanan pelanggannya.Tangannya cekatan memilih setiap tangkai bunga krisan yang masih segar direngkuh udara segar pagi hari.Krisan putih terlihat menawan secantik perempuan bermata sipit itu.Jemari lentiknya menari menyeleksi tangkai krisan terbaik untuk momen bahagia pelanggan setianya.      Sang surya menatap raut cerah perempuan itu.Menanggalkan kesan panas cahaya matahari,pagi memang selalu bersahabat dengan perempuan pekerja keras seperti gadis karyawan toko bunga itu.Aura keramahan memancar dari lengkung tipis mempesona di bibirnya.Sashi Mei,nama gadis itu.      Dia begitu telaten merawat tangkai-tangkai bunga pilihan agar tetap segar.Selalu tersenyum pada setiap orang yang memesan,melihat-lihat,bahkan hanya lewat depan toko bunga pinggir kota itu.Siapa yang tidak senang disapa sekaligus diberi senyum gadis secantik Mei.Meski dia cantik,Mei tak pernah segan untuk bersosialisasi dengan ...