Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Cerpen : Perempuan Bernama Mei

     Perempuan bermata sipit itu merangkai buket pesanan pelanggannya.Tangannya cekatan memilih setiap tangkai bunga krisan yang masih segar direngkuh udara segar pagi hari.Krisan putih terlihat menawan secantik perempuan bermata sipit itu.Jemari lentiknya menari menyeleksi tangkai krisan terbaik untuk momen bahagia pelanggan setianya.      Sang surya menatap raut cerah perempuan itu.Menanggalkan kesan panas cahaya matahari,pagi memang selalu bersahabat dengan perempuan pekerja keras seperti gadis karyawan toko bunga itu.Aura keramahan memancar dari lengkung tipis mempesona di bibirnya.Sashi Mei,nama gadis itu.      Dia begitu telaten merawat tangkai-tangkai bunga pilihan agar tetap segar.Selalu tersenyum pada setiap orang yang memesan,melihat-lihat,bahkan hanya lewat depan toko bunga pinggir kota itu.Siapa yang tidak senang disapa sekaligus diberi senyum gadis secantik Mei.Meski dia cantik,Mei tak pernah segan untuk bersosialisasi dengan ...

Skenario Asa Si Anak Desa

Skenario Asa  Si Anak Desa      Prihatini menatapku,memberi kode untuk mengerjai Suprih dengan segera berlari.Aku hanya tersenyum mengiyakan rencana murahan itu.Karena sudah tak terhitung berapa kali kami selalu melakukannya sepulang sekolah.Aku berbisik di telinganya,hitungan satu sampai tiga.Kaki kecil kami melangkah cepat di bawah pohon bambu di atas jembatan.Kamilah tiga serangkai yang jahil.Tiga anak perempuan yang saat itu masih mengenyam bangku sekolah dasar.      "Hahaha..Ayo Suprih kejar kami!"      Prihatini tertawa melihat Suprih yang jauh tertinggal di belakang kami.Sedangkan Suprih memasang wajah garang seolah kesal dengan ulah kami.Namun pada akhirnya dia melangkah mengejar kami.Memang semua terasa konyol tetapi itulah kami.Sesering apapun kami saling mengerjai namun kami tidak pernah saling bertengkar.Semua adalah bumbu-bumbu manis yang akan kami ingat ketika dewasa nanti.      Kami tumbuh bersama pad...

Daun Maple Pemburu Petrichor

     Lima tahun sudah ayah kehilangan gairah hidup.Dirinya yang dulu begitu hangat dan menyenangkan menjelma menjadi ayah yang dingin dan banyak diam.Sering aku melihatnya melamun di dekat jendela ruang tamu.Duduk termenung di kursi teras rumah atau bahkan membuka lebar-lebar jendela dekat balkon kamarnya.Dia lebih banyak diam dan menjawab singkat perihal pertanyaanku.      Namun menjelang akhir musim kemarau yang panjang,ayah terbangun dari perbedaan.Suatu malam yang tenang dia menghampiriku di teras depan rumah.Mengajakku menyeruput secangkir kopi dan berbincang.Dia tersenyum padaku.Sungguh,aku merasa ayah terlahir kembali.Menjadi seperti ayah yang dulu,hangat dan menyenangkan.Ayah mulai bercerita tentang sebuah buku harian usang di tangannya.Dia menyuruhku membukanya.Lalu aku baru tahu,buku harian itu adalah milik almarhum ibuku.Pada halaman pertama kulihat foto ayah,ibu,dan diriku yang masih bayi di bawah sebuah pohon maple yang tak berdaun.Sedangkan l...

Tanpa Pamit

     Waktu telah memburu di pagi yang masih sama seperti biasanya.Seorang laki-laki sedang menyemir sepatu hitam kusutnya,memasang dasi merah marun yang sudah terlihat tua dan usang.Laki-laki itu merapikan rambut cepaknya yang sudah mulai memutih terbawa usia.Ayahku,harusnya sudah bisa menikmati masa tuanya untuk saat ini.      “Ayah berangkat sekarang ?"      “Iya,baik-baik di rumah.”      Setelah dia mengatakannya,ayah mengecup keningku dan berkelana meninggalkan rumah.Meninggalkan jejak-jejak keheningan di rumah kecil ini. ***      Tiga jam sudah aku menunggunya.Jenuh duduk di kursi meja makan dengan hidangan makan malam seadanya.Aku memasak untuknya dengan berharap dia bisa menyantapnya bersamaku.Jam dinding berdetak-detak menunjukkan pukul setengah sebelas malam.Tetapi ayah belum juga datang.Selera makanku menghilang dan justru rasa kantuk mulai menyerangku.Hawa dingin malam berhembus menusuk tulang-tul...

Cerita Sebatang Cokelat

     Hari yang begitu melelahlan,bukan apa tetapi full day school memang membuatku merasa lebih lelah dari biasanya.Melangkahkan kaki melewati tangga kelas yang naik turun mengikuti kontur bangunan sekolah ini.      Aku berjalan menuju tempat parkir siswa.Menghampiri sepeda motor ayah yang selama ini ku pakai berangkat dan pulang sekolah.Kunyalakan mesinnya,aku ingin segera pulang. Akan tetapi belum sampai dua meter aku beranjak dari tempat parkir motorku semula,dia datang.Kurasa dia baru saja selesai salat ashar.Ku tarik tuas rem tangan sepeda motorku.      "Brylian..." Kupanggil namanya,tampaknya dia mengerti apa yang ingin kukatakan.      "Tidak usah."      "Beneran?"      "Aku itu laki-laki jadi nggak usah,aku saja nggak bisa kasih apa-apa ke kamu."      "Hmm..."      Dia mulai beranjak pulang meninggalkan tempat parkir bersama sepeda motornya.   ...

Fiksimini/Cerpen : So Far Away

                   So Far Away      Laki-laki dan perempuan itu berjalan beriringan menjelajahi panorama sore hari di pinggir pantai berpasir putih, sambil bersenandung didampingi alunan deburan ombak.Laki-laki itu memetik gitarnya dengan sangat menjiwai lagu yang disenandungkannya. Sebuah lagu yang dipopulerkan oleh Avenged Sevenfold yaitu Dear God. Sedangkan si perempuan menikmatinya dengan sesekali ikut bernyanyi. "Deff, nanti temenin aku yuk? " "Kemana? " "Ke kafe Bougenville kebetulan nanti ada job." "Oh, ya udah nanti kujemput. "                          ***      Sambil menunggu Deffa, Valen memutar lagu kesukaanya, So Far Away. Setelah beberapa menit menunggu beberapa menit ,akhirnya Deffa datang menjemput dengan mobil Honda Ja...