Langsung ke konten utama

Linkin Park, Chester Bennington, dan 20 Juli

    Aku perempuan 20 tahun yang telah melewati masa waptrick, planetlagu, joox, dan sekarang spotify. Siapa yang selama hidupnya tidak pernah mendengarkan musik? Tentu bukan aku. Ketika trend mengunduh lagu bajakan tengah marak, aku merupakan salah satu pelaku di dalamnya. Bahkan jujur sampai saat ini aku masih menyimpan file-file .mp4 itu di dalam perangkat pc-ku.

    Enam tahun lebih yang lalu, aku belum mengenal BTS, atau EXO, atau The Chainsmokers, atau bahkan Nadin Amizah. Aku masih seorang remaja yang mendengarkan lagu-lagu Peterpan (aku pikir ketika SMP terdapat masa aku berjarak dengan NOAH), Maroon 5, Coldplay, Simple Plan, Avril Lavigne, Taylor Swift, Avenged Sevenfold, dan tentunya Linkin Park.

    Di antara banyak genre musik yang kudengar, mungkin beberapa orang akan heran, “bagaimana bisa seorang perempuan mendengarkan musik rock?”. Suatu hal yang lumrah di tengah pandangan masyarakat umum, meskipun di dunia ini hal tersebut bukanlah sesuatu yang aneh.

    Berawal dari sd card ponsel pemberian kakak keponakanku, telingaku mulai terbuka untuk mendengarkan berbagai lagu dari musisi kenamaan dunia. Sebenarnya banyak, namun aku hanya akan menceritakan tentang Linkin Park. Hanya Linkin Park untuk hari bersejarah ini.

    Satu kali, dua kali, tiga kali, dan seterusnya. Mulai dari Numb, In The End, Waiting For The End, Crawling, Papercut, Faint, Figure, Somewhere I Belong, dan lainnya yang tidak akan aku sebut satu persatu, sangat cukup untuk membuatku merasa candu. Lalu seperti remaja lainnya, aku menuliskan lirik beberapa lagu, mencoba menyanyikannya (meskipun parah sekali kedengarannya), dan akhirnya sedikit hafal verse demi verse.

    Bagiku alunan musik Linkin Park serta screaming Chester sebenarnya tidak seberat grup musik lainnya (hard rock). Lirik yang mendalam, musik yang ciamik, dan vokal Chester yang tak ada duanya  membuatku menyukai karakter musik Linkin Park dan terus-menerus mendengarkan lagu-lagu mereka. Namun, sebenarnya ada faktor lain yang membuatku betah bucin dengan grup musik asal Amerika Serikat itu. Beruntungnya beberapa teman semasa SMP ternyata juga merupakan pendengar musik-musik mereka. Jadilah aku semakin berumah.

    Satu hal yang sangat kuingat saat itu adalah pembalap favoritku mengatakan dalam wawancaranya bahwa ia selalu mendengarkan musik sebelum memulai balapan dan salah satu musik yang ia dengarkan adalah Linkin Park. Aku ini dulunya bucin seorang Jorge Lorenzo, meskipun sayangnya saat ini ia telah pensiun.

    Biarpun cukup lama sejak aku mengenal Linkin Park namun bukan berarti aku mengenal lengkap semua lagu mereka. Setidaknya selama ini aku mendengarkan lagu-lagu dari album Hybrid Theory, Meteora, Minutes to Midnight, A Thousand Suns, Living Things, dan pastinya One More Light. Untuk album The Hunting Party entah mengapa kurang cocok dengan telingaku.

    Hal yang cukup menyenangkan dari Linkin Park adalah ketika mereka mengisi soundtrack untuk film favoritku, Transformers. Aku mengucapkan terima kasih kepada salah satu televisi swasta nasional yang telah berbaik hati menayangkannya hingga aku dapat berkali-kali menyaksikan film ini.

    Lagu-lagu Linkin Park seperti memiliki magis tiap kali aku mendengarkannya. Aku juga tidak bosan menonton puluhan music video dan live performance mereka. Meskipun sebenarnya waktu di mana aku menyetel musik keras-keras, mendengarkannya di malam hari, membawa seluruh emosi, merasa marah, merasa sedih, merasa tidak berguna, dan terpuruk adalah seluruh titik bawah kehidupanku.

    Aku sadar bahwa aku belum berada di usia dan keadaan yang pantas untuk membicarakan tentang titik terendah dalam kehidupan sebagai seorang manusia. Anak kemarin sore.

    Namun aku pun hanya manusia, manusia yang terkadang begitu lemah dan mudah patah. Aku percaya setiap manusia memiliki cara untuk menghadapi setiap langkah yang berat dalam hidupnya. Begitu pun denganku, aku melakukannya dengan menyerap segala yang aku dapat dari Linkin Park.

    Tentang dunia persekolahan, aku sadar aku bukan manusia cerdas, namun karena doa ibuku akhirnya aku mampu lolos dari ketakutanku tak mampu lolos ujian. Sebagai seorang siswa kupikir kekhawatiran-kekhawatiran tentang ujian adalah sesuatu yang lumrah.

    Tentang remaja, pubertas adalah hal yang menyebalkan karena penuh dengan emosi dan hal-hal absurd. Aku malas untuk membahasnya, namun seperti kebanyakan manusia aku juga mengalaminya. Menangis karena seseorang? Sudah biasa dan sekarang aku merasa bodoh. Semoga saja sudah tidak bodoh ya, wahai diriku.

    Ketika melalui semuanya dalam kurun waktu keterpurukan yang menyebalkan, tidak terlewat meskipun hanya satu lagu Linkin Park yang akan aku dengarkan sekeras-kerasnya menggunakan earphone. Aku pikir, aku berteriak bersama Chester. Aku mengalaminya, aku melakukannya, aku melaluinya, dan sekarang aku mengingatnya.

    Pagi itu, ketika aku menonton televisi sambil sarapan sebelum berangkat sekolah (hal ini menjadi kebiasaanku saat itu), tiba-tiba adikku berkata, “Mbak, tuh idolamu meninggal”.

    Aku langsung balik kanan sesudah memindahkan piring kotor ke wastafel. Aku masih ingat, channel SCTV acara Liputan6. Seorang musisi meninggal karena bunuh diri tanggal 20 Juli 2017, Chester Bennington.

    Aku tidak percaya. Namun itu sesuatu yang nyata. Aku tidak ingat lagi bagaimana sekolahku hari itu. Namun sepulang sekolah aku mengulik habis tentang Chester, menonton berkali-kali video klip Heavy dan Talking to Myself yang baru saja dirilis, dan menangis sampai bengkak keesokan harinya.

    Aku tahu aku tidak mengenal Chester dengan baik karena yang kulakukan hanyalah mendengarkan dan menghafalkan lirik lagu-lagu Linkin Park. Fakta bahwa Chester bunuh diri tepat di hari ulang tahun sahabatnya (Chris Cornell) adalah sesuatu yang pedih. Pada Mei 2017, Chris Cornell meninggal dunia karena gantung diri dan pada 20 Juli 2017 Chester menyusulnya. Mendapati fakta bahwa Chester memiliki masa lalu yang berat mulai dari pelecehan seksual semasa kecil, kecanduan narkotika dan alkohol, serta masalah perceraian membuatku memahami mengapa selama ini kudapati kesedihan dan kemarahan dalam setiap screaming dan vokalnya.

    Perilisan album One More Light seperti kebahagiaan yang kemudian disusul duka mendalam dengan keputusan Chester untuk mengakhiri hidupnya. Jika mengingat masa-masa itu rasanya aku kembali pada bulan Juli yang kelam. Satu dari seratus harapan yang kutulis “Menonton konser Linkin Park dan bertemu Chester Bennington” akhirnya gugur.

    Aku tahu banyak orang menganggap hal-hal semacam ini berlebihan. Namun, aku selalu merasa kehilangan dia setiap tahunnya di tanggal 20 Juli. Ia selalu ada dalam setiap karya yang ia tinggalkan, ia masih hidup melalui suaranya, dan ia selalu menjadi teman dalam setiap keterpurukan.

    Konser Linkin Park and Friends: Celebrate Life in Honor of Chester Bennington yang digelar pada 27 Oktober 2017 dipersembahkan untuk Chester. Aku menangis lagi, membayangkan bahwa part demi part tiap lagu dinyanyikan oleh Chester, bukan orang lain.

    Setelah hari kematiannya sampai beberapa bulan kemudian aku mendengarkan lagu-lagu Linkin Park untuk mengingat sosoknya lagi. Namun karena alasan untuk merelakan, akhirnya aku mulai mendengarkan lagu-lagu One Ok Rock dan Simple Plan, menganggap Taka dan Pierre Bouvier sebagai sosok yang mampu membawa suasana baru.

    Setelah kematian Chester, keputusan membuat organisasi pencegahan bunuh diri untuk masyarakat yang dibuat oleh keluarga Chester Bennington merupakan upaya untuk mencegah bunuh diri dan menyelamatkan orang-orang yang telah berada di puncak keputusasaannya agar tidak berakhir seperti Chester. Sewaktu masih hidup, Music for Relief sebagai sebuah organisasi yang diprakarsai oleh Linkin Park juga telah menolong banyak orang melalui bantuan kemanusiaan yang disalurkan untuk korban tsunami India, Jepang, dan bencana alam lainnya. Ia (Chester Bennington) telah menyelamatkan nyawa orang lain meskipun ia tak mampu menyelamatkan nyawanya sendiri.

    Hai, Chester… Upacara kematian memang begitu pedih. Peringatan kematian memang penuh dengan haru masa lampau. Namun aku akan mengingat setiap tahunnya tanggal 20 Juli dengan tiap hari sepanjang tahunnya mendengarkan suaramu melalui karya-karya besar Linkin Park yang akan terus hidup sepanjang masa.

    Thank you and I miss u, Chester.

 

 

Wonogiri, 20 Juli 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lirik Lagu Peterpan - Menunggu Pagi (OST Alexandria)

Menunggu Pagi - Peterpan Apa yang terjadi dengan hatiku Ku masih di sini menunggu pagi Seakan letih tak menggangguku Ku masih terjaga menunggu pagi Entah... kapan... malam berhenti Teman... aku... masih... menunggu... pagi Malam begini malam tetap begini Entah mengapa pagi enggan kembali Malam begini malam tetap begini Entah mengapa pagi enggan kembali

Pulang

“I write for my little soul” Pernahkah engkau merasakan? Tak dapat menjadi dirimu sendiri dan penuh kepalsuan. Itu datang dalam waktu yang sangat-sangat dalam. Ketika engkau banyak mendengarkan kata-kata orang namun tak mampu mendengarkan dirimu sendiri. UJUNGNYA. Sampai engkau ingin berteriak dengan lantang pada akhirnya. Sampai engkau ingin meremukkan kaca jendela rumahmu. Sampai engkau ingin membanting pigura kesayanganmu. Sampai engkau ingin mematahkan harta berhargamu, hati yang terlanjur remuk. Saat engkau sadar tak satu pun ada yang memperhatikanmu, kecuali Tuhan. Seolah tak ada yang dapat mengertikan betapa sulitnya keadaan jiwamu. Ketika tuntutan-tuntutan terasa begitu menekan. Ketika angka dan perbandingan itu membuatmu muak dan ingin pergi ke negeri jauh. Namun, kakimu bergetar hebat dan seakan tak kuat berdiri. Engkau jatuh sejatuh-jatuhnya pada lubang paling dalam. Mengutuk kehidupan dan menangisi hari-hari kemarin. Meyaksikan kehancuran hari ini seka...

Yang Datang Darimu

Hari ini aku sadar ketika melihat sebuah gambar hitam putih. Tentang sebuah hal sepele yang tiba-tiba saja terlintas. Ternyata aku tak lihai dalam mengidentifikasi gambar tanpa salah satu hal, yaitu warna. Tanpanya aku tak tahu tempat mana yang terekam dalam sebuah gambar. Tanpanya rupa-rupanya sebuah gambar menjadi asing bagiku. Namun di waktu yang lain, filter hitam putih menjadi suatu hal yang terfavoritkan. Tak selayaknya sebagai manusia aku berpijak hanya dalam sebuah hal sempit. Itu yang akan membuat duniaku menjadi tak lebih berwarna dari sekadar sebuah muara sungai yang bahkan sudah tercemar limbah hasil kecongkakan manusia. Itu akan membuat suatu keadaan monoton dan kosong. Tentu harusnya aku tak mau. Namun lagi-lagi monokrom selalu miliki daya pikat tersendiri. Ketika aku menulis tentangmu, sebenarnya itu tak sepenuhnya tentangmu. Hidup ini nyatanya tak melulu tentangmu dalam setiap waktunya. Ada banyak hal unik dan menarik. Ada banyak hal yang tak kuket...