Langsung ke konten utama

Perempuan : "Honestly, I am Jealous!"


Gambar oleh instagram @erhibiscus

       Manusia. Aku, engkau, dan semua. Terkadang memanjat langit menciptakan benteng tidak hanya satu malam. Suatu prasangka bahwa momentum menjatuhkan keruntuhan. Apa ada yang salah dalam komposisi pondasinya? Pada dasarnya bukan karang alamiah yang hidup tetapi dianggap mati. Memudahkan penulisan nisan sebelum jatuhnya perjanjian perang. Umum membolehkan anggapan "keruntuhan" itu mudah. Lalu, setelah pengalaman momentum yang terus di ulang saat kehidupan masih menyetujui atas perintah Pemilik-ku/-mu. Manusia berhak memilih menciptakan margin jiwa tanpa harus membenteng diri, menumpuk pondasi buatan yang pada kenyataannya tidak pernah sekuat ciptaan Pemilik-ku juga -mu. Ini hanya sekadar pilihan, untuk tetap berada pada gradasi yang lebih baik, dalam margin yang tidak menginjak pekarangan orang lain yang tidak seharusnya dipijak. Seberapa kita kalah menjatuhkan diri sendiri dalam keruntuhan, manusia bisa memilih berdiam, menciptakan margin, atau menginjak. Kau yang mana??~ _vera causa_

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lirik Lagu Peterpan - Menunggu Pagi (OST Alexandria)

Menunggu Pagi - Peterpan Apa yang terjadi dengan hatiku Ku masih di sini menunggu pagi Seakan letih tak menggangguku Ku masih terjaga menunggu pagi Entah... kapan... malam berhenti Teman... aku... masih... menunggu... pagi Malam begini malam tetap begini Entah mengapa pagi enggan kembali Malam begini malam tetap begini Entah mengapa pagi enggan kembali

AUGUST

Semoga tulisan ini tidak terlambat, seperti tagihan tugas-tugasku yang menumpuk di akhir semester, seperti rindu yang manusia tampung dalam celengan bak syair Bung Fiersa Besari. Kepada, Agustus. Aku meminta maaf karena tak mengucap selamat datang dan tiba-tiba menjumpaimu di hari yang hampir terhitung akhir ini. Terima kasih sudah berkenan menggenapkan tujuh belas yang ketujuh puluh enam bagi tanah kelahiranku ini. Semoga Tuhan mempertemukan kita kembali di tahun-tahun yang akan datang. Dirgahayu… dirgahayu… dirgahayu… Semoga berumur panjang untuk negaraku juga negaramu. Kita yang terlahir di tanah yang sama namun tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang berbeda. Namun, tentangmu… aku akan selalu mendoakan kebaikan-kebaikan yang tak terhingga selayaknya apa yang orang-orang baik itu doakan untukmu. Apakah orang-orang masa kini masih membicarakan tentang kemerdekaan di dalam layar kaca, di pelataran media sosial, di dalam bus kota, kereta, juga kapal udara, di gedung-gedung pemerint...

Pulang

“I write for my little soul” Pernahkah engkau merasakan? Tak dapat menjadi dirimu sendiri dan penuh kepalsuan. Itu datang dalam waktu yang sangat-sangat dalam. Ketika engkau banyak mendengarkan kata-kata orang namun tak mampu mendengarkan dirimu sendiri. UJUNGNYA. Sampai engkau ingin berteriak dengan lantang pada akhirnya. Sampai engkau ingin meremukkan kaca jendela rumahmu. Sampai engkau ingin membanting pigura kesayanganmu. Sampai engkau ingin mematahkan harta berhargamu, hati yang terlanjur remuk. Saat engkau sadar tak satu pun ada yang memperhatikanmu, kecuali Tuhan. Seolah tak ada yang dapat mengertikan betapa sulitnya keadaan jiwamu. Ketika tuntutan-tuntutan terasa begitu menekan. Ketika angka dan perbandingan itu membuatmu muak dan ingin pergi ke negeri jauh. Namun, kakimu bergetar hebat dan seakan tak kuat berdiri. Engkau jatuh sejatuh-jatuhnya pada lubang paling dalam. Mengutuk kehidupan dan menangisi hari-hari kemarin. Meyaksikan kehancuran hari ini seka...