Langsung ke konten utama

The Savior is You

Seseorang berada dalam ruang paling gelap. Di dalamnya ada udara kosong dan kesunyian. Lalu tiap-tiap suara yang padam mengeluh. Begitupun molekul cahaya tiada yang bertahan saat itu.

Ada banyak bimbang yang berkeliaran. Mondar-mandir dari ujung selatan ke utara. Tiada aroma yang orang itu temukan. Karena tak seorangpun singgah di dalamnya selain dirinya sendiri.

Seseorang itu pernah bertemu denganmu. Menyapa di bawah langit pagi yang beranjak tengah hari. Menanyakan siapa namamu, rumahmu, dan siapa kamu. Hingga dia utuh mengenal sosokmu yang bukan sekadar bayangmu.

Kalian pernah bertemu lagi di sebuah tempat paling asing dalam ukuran usia manusia. Ketika dirimu mengeluh dan sakit, dia datang. Bersama ribuan molekul air yang memecah di atas tanah. Itulah mula kehidupanmu yang baru.

Sejak orang itu datang, keluhmu bertambah banyak ketika engkau bersuara. Engkau melepaskan segala yang telah lama terpenjara. Engkau yang awalnya diam menjadi sosok yang terbuka. Menyenangkan?

Menyenangkan tatkala banyak waktu yang sanggup kau lalui dengan seseorang itu. Sampai engkau tak sadar telah kehabisan waktu.

Bahkan dirimu telah mengurungnya dalam sebuah ruang paling gelap yang bahkan kau sendiri tak pernah bisa membayangkannya. Apa kau sadar? Engkau sekejam itu?

Selamat bertanya kepada diri sendiri.

Dan selamatkanlah seseorang itu. Temukan cahayamu, lalu bagikan dengan seseorang itu. Agar tak ada korban dari ruang paling gelap itu. Segalanya akan menjadi mungkin, jika itu kamu.

🍀🍀🍀

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lirik Lagu Peterpan - Menunggu Pagi (OST Alexandria)

Menunggu Pagi - Peterpan Apa yang terjadi dengan hatiku Ku masih di sini menunggu pagi Seakan letih tak menggangguku Ku masih terjaga menunggu pagi Entah... kapan... malam berhenti Teman... aku... masih... menunggu... pagi Malam begini malam tetap begini Entah mengapa pagi enggan kembali Malam begini malam tetap begini Entah mengapa pagi enggan kembali

AUGUST

Semoga tulisan ini tidak terlambat, seperti tagihan tugas-tugasku yang menumpuk di akhir semester, seperti rindu yang manusia tampung dalam celengan bak syair Bung Fiersa Besari. Kepada, Agustus. Aku meminta maaf karena tak mengucap selamat datang dan tiba-tiba menjumpaimu di hari yang hampir terhitung akhir ini. Terima kasih sudah berkenan menggenapkan tujuh belas yang ketujuh puluh enam bagi tanah kelahiranku ini. Semoga Tuhan mempertemukan kita kembali di tahun-tahun yang akan datang. Dirgahayu… dirgahayu… dirgahayu… Semoga berumur panjang untuk negaraku juga negaramu. Kita yang terlahir di tanah yang sama namun tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang berbeda. Namun, tentangmu… aku akan selalu mendoakan kebaikan-kebaikan yang tak terhingga selayaknya apa yang orang-orang baik itu doakan untukmu. Apakah orang-orang masa kini masih membicarakan tentang kemerdekaan di dalam layar kaca, di pelataran media sosial, di dalam bus kota, kereta, juga kapal udara, di gedung-gedung pemerint...

Pulang

“I write for my little soul” Pernahkah engkau merasakan? Tak dapat menjadi dirimu sendiri dan penuh kepalsuan. Itu datang dalam waktu yang sangat-sangat dalam. Ketika engkau banyak mendengarkan kata-kata orang namun tak mampu mendengarkan dirimu sendiri. UJUNGNYA. Sampai engkau ingin berteriak dengan lantang pada akhirnya. Sampai engkau ingin meremukkan kaca jendela rumahmu. Sampai engkau ingin membanting pigura kesayanganmu. Sampai engkau ingin mematahkan harta berhargamu, hati yang terlanjur remuk. Saat engkau sadar tak satu pun ada yang memperhatikanmu, kecuali Tuhan. Seolah tak ada yang dapat mengertikan betapa sulitnya keadaan jiwamu. Ketika tuntutan-tuntutan terasa begitu menekan. Ketika angka dan perbandingan itu membuatmu muak dan ingin pergi ke negeri jauh. Namun, kakimu bergetar hebat dan seakan tak kuat berdiri. Engkau jatuh sejatuh-jatuhnya pada lubang paling dalam. Mengutuk kehidupan dan menangisi hari-hari kemarin. Meyaksikan kehancuran hari ini seka...