Langsung ke konten utama

SANSEVIERIA

SAN.SE.VI.E.RIA (Aku suka saja dengan judul ini meskipun tak ada sangkut-pautnya)


Jika aku menjadi seseorang yang mengagumkan apakah akan kamu menoleh meskipun berada di tempat terjauh sekalipun? Jadi tolong untuk tidak memprotes ini karena kita sama-sama tahu jalan masing-masing dan begitulah kita akan bekerja dengan kehidupan kita, sebagai manusia. Jika ada sesuatu yang tidak perlu maka mungkin itu kesalahan. Namun kadang kesalahan pun bermanfaat, lalu apakah kita adalah orang yang sama dengan diri kita yang kemarin karena jika dipikir-pikir kita selalu saja memiliki sifat unik. Atau justru aneh? Aneh bagi sosok yang tak pernah mengenali kita. Maka semoga kita menjadi sosok yang bermartabat, yang tidak paham apa itu tercekik, yanag mampu berpura-pura tak mendengar omong kosong mereka. Maka menjauhlah dari api, agar terhindar dari kebakaran jiwamu yang tidak pernah padam sebelumnya. Atau sebenarnya justru telah padam bertahun-tahun yang lalu.
 
🍀

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suatu Waktu untuk Sebuah Orientasi Pilihan

Berapa banyak waktu yang telah terlewati? Berapa banyak keluh dan sesal karena itu? Beberapa dari kita mungkin merasa tak pernah dapat memilih. Sekalipun pilihan-pilihan itu ada namun apa yang akhirnya diputuskan terkadang bukan yang kita inginkan. Bagaiamana dengan hal itu? Apa itu sesuatu yang salah? Aku salah satu dari sekian persen jumlah manusia yang merasa bersalah akan waktu. Bagaimana cara menghargainya rasanya tak pernah menjadi sebuah ketepatan. Lalu kini aku malu, aku semakin tua namun tak banyak yang berubah begitu saja. Apa tetap menjadi seperti kemarin adalah benar-benar tak apa? Aku suka menjelajahi setiap ingatan yang tercatat. Kadang begitu manis, kadang begitu pahit. Ada sesuatu yang lebih dari rasa itu hingga tak ada bosan yang bersarang. Aku ingin titip sesuatu untuk masa depan, dialah sejarah. Masa yang gila. Masa yang bermakna. Lalu masa yang tak ternilai. Bagaimana caranya mengulang? Cerita itu menjadi suatu ujung yang tak kuketahui. Ter...

AUGUST

Semoga tulisan ini tidak terlambat, seperti tagihan tugas-tugasku yang menumpuk di akhir semester, seperti rindu yang manusia tampung dalam celengan bak syair Bung Fiersa Besari. Kepada, Agustus. Aku meminta maaf karena tak mengucap selamat datang dan tiba-tiba menjumpaimu di hari yang hampir terhitung akhir ini. Terima kasih sudah berkenan menggenapkan tujuh belas yang ketujuh puluh enam bagi tanah kelahiranku ini. Semoga Tuhan mempertemukan kita kembali di tahun-tahun yang akan datang. Dirgahayu… dirgahayu… dirgahayu… Semoga berumur panjang untuk negaraku juga negaramu. Kita yang terlahir di tanah yang sama namun tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang berbeda. Namun, tentangmu… aku akan selalu mendoakan kebaikan-kebaikan yang tak terhingga selayaknya apa yang orang-orang baik itu doakan untukmu. Apakah orang-orang masa kini masih membicarakan tentang kemerdekaan di dalam layar kaca, di pelataran media sosial, di dalam bus kota, kereta, juga kapal udara, di gedung-gedung pemerint...

Pulang

“I write for my little soul” Pernahkah engkau merasakan? Tak dapat menjadi dirimu sendiri dan penuh kepalsuan. Itu datang dalam waktu yang sangat-sangat dalam. Ketika engkau banyak mendengarkan kata-kata orang namun tak mampu mendengarkan dirimu sendiri. UJUNGNYA. Sampai engkau ingin berteriak dengan lantang pada akhirnya. Sampai engkau ingin meremukkan kaca jendela rumahmu. Sampai engkau ingin membanting pigura kesayanganmu. Sampai engkau ingin mematahkan harta berhargamu, hati yang terlanjur remuk. Saat engkau sadar tak satu pun ada yang memperhatikanmu, kecuali Tuhan. Seolah tak ada yang dapat mengertikan betapa sulitnya keadaan jiwamu. Ketika tuntutan-tuntutan terasa begitu menekan. Ketika angka dan perbandingan itu membuatmu muak dan ingin pergi ke negeri jauh. Namun, kakimu bergetar hebat dan seakan tak kuat berdiri. Engkau jatuh sejatuh-jatuhnya pada lubang paling dalam. Mengutuk kehidupan dan menangisi hari-hari kemarin. Meyaksikan kehancuran hari ini seka...